Lewati ke konten

Resurgensi Kader: Dialektika Tajdid, Tajrid, dan Transformasi Digital untuk Menjaga Dinamika Persyarikatan.

Oleh: Majelis Pustaka dan Informasi

Keputusan strategis Sutardi untuk menanggalkan rutinitas administratif di PDM Kota Sukabumi selama tiga hari, terhitung sejak 31 Juli 2026, bukanlah sebuah abdikasi dari tanggung jawab, melainkan manifestasi dari kesadaran ontologis seorang kader akan pentingnya self-assessment dan pengembangan kapasitas di tengah arus disrupsi global. Dalam tradisi organisasi yang mengedepankan gerakan tajdid, stagnasi adalah musuh laten yang sering kali tersamar dalam balutan rutinitas yang mekanis. Sutardi, yang telah menjadi denyut nadi administratif selama lima tahun terakhir, memahami bahwa loyalitas tanpa pembaruan ilmu hanya akan membawa organisasi pada titik nadir relevansi. Oleh karena itu, jeda ini merupakan sebuah langkah taktis untuk melakukan tajrid, yakni mengosongkan diri dari keterikatan pada pola lama yang monoton, guna melakukan reorientasi diri agar setiap gerak langkahnya di sekretariat kelak bukan sekadar formalitas administratif, melainkan manifestasi pengabdian yang visioner dalam menjawab tantangan zaman.

Merujuk pada prinsip teologis yang mendasari spirit dakwah kita, QS. Al-Insyirah ayat 7–8 memberikan imperatif yang sangat jelas: “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” Ayat ini merupakan simpul pertemuan antara tajdid dan tajrid. Tajrid di sini dimaknai sebagai upaya memutus rantai ketergantungan pada “urusan yang telah selesai” agar jiwa kembali jernih untuk menatap tantangan baru. Bagi seorang kader Persyarikatan, menuntaskan satu fase pekerjaan bukanlah akhir, melainkan undangan untuk memurnikan niat melalui tajdid, yakni pembaruan metode. Sutardi sedang menerjemahkan ayat ini ke dalam tindakan nyata. Ia menolak menjadi mesin birokrasi yang berputar pada poros masa lalu dan memilih mengintegrasikan semangat kerja keras dengan penguasaan metodologi baru yang lebih adaptif, sebuah langkah yang mencerminkan ruh keteladanan para pendiri Persyarikatan.

Fenomena kejenuhan administratif yang dialami Sutardi merupakan otokritik yang jujur dan berani. Ia menyadari bahwa masih banyak ruang kosong dalam tata kelola organisasi yang selama ini tertutup oleh debu-debu birokrasi yang usang. Organisasi yang sehat harus memiliki keberanian untuk melakukan tajrid atas sistemnya, yaitu membuang segala sesuatu yang tidak lagi relevan sebelum melakukan tajdid untuk membangun struktur yang lebih efektif. Dengan mengakui bahwa dirinya telah terjebak dalam “jebakan manajemen rutin”, Sutardi menunjukkan integritas intelektual yang menempatkan kemajuan institusi di atas ego pribadi. Ia tidak ingin PDM Kota Sukabumi sekadar menjadi gudang arsip, melainkan bertransformasi menjadi pusat informasi yang lincah, profesional, dan mampu memancarkan nilai-nilai Islam Berkemajuan ke ruang-ruang digital yang kini menjadi medan utama pertarungan opini publik.

Pelatihan Manajemen Reputasi Digital Organisasi menjadi ruang penguatan kapasitas kader Muhammadiyah di era digital.

Partisipasi Sutardi dalam Pelatihan Manajemen Reputasi Digital Organisasi di Universitas Muhammadiyah Cirebon pada 31 Juli–2 Agustus 2026 merupakan manifestasi nyata dari tajdid dalam konteks teknologi. Di era disrupsi, reputasi digital bukan sekadar alat komunikasi massa, melainkan amanah baru yang harus dikelola dengan kapasitas intelektual dan teknis yang mumpuni. Kita sering lupa bahwa dakwah modern memerlukan strategi naratif di ruang digital yang jernih. Hal itu bukan berarti meninggalkan prinsip-prinsip dakwah, melainkan melakukan pembaruan metode agar pesan Islam mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas dan efektif. Sutardi sedang mempelajari bagaimana mengubah administrasi dakwah yang kaku menjadi dakwah yang memiliki resonansi luas, menembus batas geografis dengan pesan-pesan yang santun namun memikat. Inilah bentuk jihad intelektual yang semestinya menjadi prioritas setiap aktivis Muhammadiyah agar tetap relevan di tengah banjir informasi.

Komitmen untuk fastabiqul khairat, sebagaimana diperintahkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 148, menuntut kita untuk terus melakukan tajrid terhadap mentalitas yang lamban serta melakukan tajdid terhadap semangat dan kompetensi. Kita tidak dapat mengharapkan hasil yang berbeda apabila terus menggunakan metode yang sama. Ketidakhadiran Sutardi selama tiga hari merupakan jeda yang diperlukan untuk “membersihkan” sistem dalam dirinya dari paradigma yang stagnan, guna merancang ulang skema kerja sekretariat yang lebih efektif, efisien, dan adaptif.

Langkah ini menunjukkan bahwa kader Muhammadiyah sejati adalah mereka yang tidak betah dengan status quo, melainkan mereka yang terus-menerus melakukan proses pembaruan diri. Inilah esensi semangat amar ma’ruf nahi munkar yang diwujudkan melalui pendekatan yang elegan, terstruktur, dan berbasis ilmu pengetahuan.

Bagi PDM Kota Sukabumi, absennya Sutardi merupakan momentum emas untuk melakukan refleksi kolektif. Keberaniannya meninggalkan kursi sejenak menjadi sinyal kuat bahwa pengabdian harus bersifat dinamis. Kita harus menciptakan sistem yang memungkinkan kaderisasi tidak hanya berlangsung melalui pergantian kepengurusan, tetapi juga melalui peningkatan kualitas individu secara berkesinambungan melalui tajdid. Jika organisasi dibiarkan stagnan, maka sesungguhnya kita sedang mempersiapkan diri untuk ditinggalkan oleh zaman. Sebaliknya, dengan mendukung inisiatif pengembangan kapasitas seperti yang dilakukan Sutardi, kita sedang memastikan bahwa roda sejarah Muhammadiyah tetap berputar di poros kemajuan, tetap relevan bagi generasi muda, serta menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah dakwah Islam di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

Semangat pengkhidmatan yang dibawa Sutardi merupakan bentuk keteguhan hati yang melampaui kepentingan pragmatis. Mengabdi di Muhammadiyah adalah kontrak spiritual yang dimanifestasikan melalui pelayanan. Hal ini sejalan dengan spirit QS. At-Taubah ayat 105: “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu…'” Keyakinan bahwa Allah menyaksikan setiap upaya untuk meningkatkan kualitas diri menjadi bahan bakar utama perjuangan. Sutardi memahami bahwa sejarah tidak ditulis oleh orang-orang yang pasif, melainkan oleh mereka yang berani melakukan tajrid atas ketakutan untuk berubah dan berani berinvestasi pada tajdid pemikiran guna melahirkan inovasi yang berdampak nyata bagi keberlangsungan dakwah.

 

Pelatihan ini memperkuat kapasitas kader Muhammadiyah dalam membangun reputasi organisasi di era digital.

Saat kembali dari Cirebon nanti, Sutardi akan membawa bekal manajemen reputasi yang diharapkan mampu mengubah wajah sekretariat menjadi lebih modern dan gesit dalam merespons berbagai isu sosial. Keberaniannya meninggalkan zona nyaman bukanlah bentuk menjauh dari organisasi, melainkan upaya memperkuat fondasi agar PDM Kota Sukabumi tetap kokoh di tengah badai informasi. Inilah cara cerdas seorang kader dalam merawat napas roda sejarah Muhammadiyah. Ia membuktikan bahwa tugas-tugas administratif, jika dikelola dengan visi tajdid yang benar, dapat menjadi instrumen perubahan sosial yang sangat kuat, selama kita memiliki kemauan untuk terus melakukan tajrid—memurnikan niat dan melepaskan metode-metode yang menghambat kemajuan.

Langkah Sutardi harus kita jadikan sebagai preseden positif bagi seluruh kader Muhammadiyah Kota Sukabumi. Mari kita dorong lebih banyak kader untuk berani melakukan upgrading diri, berani melakukan tajrid dari kejenuhan rutinitas, serta melakukan tajdid melalui lompatan-lompatan kualitas yang menantang. Dengan bersatu padu dalam semangat fastabiqul khairat dan didasari niat tulus untuk berdakwah, insya Allah Muhammadiyah Kota Sukabumi akan terus menjadi mercusuar kemajuan yang memancarkan cahaya Islam yang mencerahkan, menebarkan rahmat bagi semesta alam, dan menjadi bukti nyata bahwa organisasi ini tidak pernah lelah untuk bertransformasi. Mari kita terus bergerak, sebab roda sejarah tidak pernah berhenti berputar. Ia hanya akan meninggalkan mereka yang berhenti belajar, berhenti bertajdid, dan enggan memperbarui diri.

Nasrun minallāhi wa fatḥun qarīb.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *