Lewati ke konten

MERAJUT SEMESTA: PETA JALAN TA’AWUN MUHAMMADIYAH UNTUK BANGSA

Oleh: Majelis Pustaka dan Informasi

Di tengah kompleksitas tantangan zaman yang penuh ketidakpastian, Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dituntut untuk terus hadir dengan solusi yang membumi. Persyarikatan ini bukan sekadar organisasi formal, melainkan entitas perjuangan yang napasnya adalah pengabdian suci kepada umat dan bangsa. Untuk menjawab tantangan tersebut, kita memerlukan “Rute Kebersamaan” yang dimulai dari Ta’aruf, Tafahum, Tasamuh, hingga berpuncak pada Ta’awun sebagai peta jalan peradaban yang harus kita hidupkan kembali dalam denyut nadi perjuangan para kader di seluruh pelosok negeri.

Langkah pertama adalah Ta’aruf. Bagi kader, ta’aruf bukan sekadar saling mengenal nama, melainkan membangun ulfah (keakraban) dan suhbah (persahabatan) yang berakar pada iman. Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ta’aruf menuntut kerendahan hati untuk menghilangkan sekat-sekat ego sektoral serta membangun kepercayaan bahwa setiap kader adalah mitra strategis dalam dakwah kebangsaan.

Setelah ta’aruf terjalin, kita melangkah ke Tafahum (saling memahami). Gesekan dalam organisasi sering muncul bukan karena perbedaan tujuan akhir, melainkan karena kurangnya pemahaman terhadap konteks dan latar belakang sesama kader. Rasulullah saw. bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari No. 13)

Tafahum menghendaki kita untuk lebih banyak mendengar serta berusaha memandang persoalan dari sudut pandang saudara kita sebelum mengambil kesimpulan. Dengan demikian, kita tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memecah belah.

Tahap ketiga adalah Tasamuh, yaitu kelapangan hati dalam menyikapi perbedaan. Muhammadiyah yang kaya dengan khazanah pemikiran—dari yang tradisional hingga progresif—harus menjadikan tasamuh sebagai wujud nyata kedewasaan berorganisasi. Tasamuh bukan berarti mencampuradukkan akidah, melainkan memberikan ruang bagi saudara kita untuk berproses dalam koridor yang benar. Seorang negarawan memahami bahwa dalam tubuh bangsa yang besar, perbedaan adalah rahmat yang memperkaya strategi dakwah, bukan api yang membakar keutuhan rumah besar kita.

Puncak dari seluruh perjalanan ini adalah Ta’awun, yaitu berkolaborasi dan bahu-membahu dalam memecahkan persoalan umat. Ta’awun merupakan manifestasi iman yang paling nyata. Allah Swt. menegaskan:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Bagi kader Muhammadiyah, ta’awun bukanlah pilihan, melainkan kewajiban moral untuk memastikan bahwa dakwah benar-benar menyentuh akar rumput yang paling membutuhkan. Di era disrupsi ini, kita harus membangun ekosistem kolaborasi yang melampaui batas-batas organisasi demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Implementasi ta’awun harus menyentuh esensi kehidupan berbangsa melalui tiga pilar utama.

Pertama, ta’awun intelektual, yaitu berbagi ilmu tanpa merasa paling pintar.

Kedua, ta’awun ekonomi, yaitu mendukung pemberdayaan ekonomi sesama kader sebagai fondasi kedaulatan dakwah.

Ketiga, ta’awun sosial, yaitu bersikap responsif terhadap penderitaan sesama.

Inilah semangat Islam Berkemajuan yang hadir bukan hanya di masjid, tetapi juga di pasar, rumah sakit, sekolah, kampus, hingga pelosok desa.

Namun, peta jalan ini tidak akan bermakna tanpa “bahan bakar” berupa keikhlasan yang tulus. Sering kali ego pribadi menjadi penghambat utama dalam membangun kolaborasi. Oleh karena itu, marilah kita tanamkan keyakinan bahwa kekuatan Muhammadiyah bukan terletak pada besarnya jumlah anggota atau megahnya gedung yang dimiliki, melainkan pada kualitas persaudaraan serta kuatnya semangat ta’awun di antara para kader.

Ketika ta’aruf telah mendalam, tafahum telah mengakar, dan tasamuh telah menjadi karakter, maka ta’awun akan mengalir sebagai bentuk ibadah yang luhur kepada Allah Swt. Kader Muhammadiyah adalah mereka yang siap tenggelam dalam kerja-kerja besar tanpa harus namanya muncul di permukaan. Mereka lebih mengutamakan keberhasilan dakwah daripada pengakuan pribadi.

Sebagai penutup, marilah kita meneguhkan kembali komitmen ideologis bahwa Muhammadiyah senantiasa berpihak kepada kaum yang lemah: mereka yang terbatas akses pendidikannya, terpinggirkan keadilannya, dan terhalang memperoleh kesejahteraan. Di sanalah sesungguhnya medan juang Muhammadiyah berada.

Muhammadiyah tidak hadir sekadar berdiri di menara gading yang megah, melainkan menjadi pelita di gang-gang sempit, penopang bagi bahu yang letih, dan suara bagi mereka yang dibungkam oleh ketidakadilan.

Tugas kita adalah memastikan bahwa setiap denyut nadi Persyarikatan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh mereka yang paling membutuhkan. Dengan demikian, Islam tidak hanya menjadi identitas, tetapi benar-benar menjelma sebagai rahmat bagi semesta yang mengangkat martabat manusia menuju kemuliaan yang diridai Allah Swt.

Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan kekuatan, petunjuk, dan kesabaran kepada kita semua agar tetap istiqamah di jalan dakwah, merajut ukhuwah dengan kasih sayang, serta membangun peradaban melalui semangat ta’awun yang tulus dan tanpa pamrih. Semoga setiap langkah perjuangan kita menjadi amal jariah yang terus mengalir dan menghiasi timbangan kebaikan di hadapan Allah Swt.

Nashrun minallāhi wa fatḥun qarīb.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *